Surat Cinta Buat Bapak

Selamat berulang tanggal dan bulan bulan kelahiran, bapak!

Ini surat cinta yang ku ketik untuk bapak. Berbeda dengan surat yang ku kirimkan bapak ke Sengkang. Beda sekali. Dalam tulisan ini, aku juga mengetik do'a do'a dan pengharapan terbaik buatmu, Pak.
Menginjak umur 54 tahun ini, aku tahu sudah banyak tahun tahun yang dilalui bersama sama. Sama mama, dan addank. Suka duka sudah tak usah lagi dibicarakan. Itu serupa napas yang selalu ada dalam keluarga kita.

Bapakku yang baik hatinya, tentu saja begitu. Aku sudah mengenalmu sejak aku terlahir di dunia dan kau tepat berada di samping mama saat itu. Bapak, pembonceng setiaku sewaktu kecil menaiki vespa merahmu dan aku selalu duduk di depan dan bercerita tentang apa saja yang ku lewati seharian penuh di sekolah. Bapak, guru catur terbaikku sepanjang masa. Tanpa ragu memarahi ketika aku melakukan hal bodoh dengan mengangkat pion yang salah. Bapak yang bermata abu-abu. Setidaknya itu yang kulihat terakhir kali bertemu dengan bapak.

Kau tahu, Pak. Aku masih ingat sekumpulan hari dimana kita bersama. Kau mengajarkan aku memasak. Mengajarku mengalasi panci nasi agar tidak gosong. Mengajari aku agar mulai menyukai ayam, sampai hari ini. Kau pula yang mengajarkan aku memperbaiki motor. Terima kasih, Bapak. Buatku, Bapak adalah sosok lelaki terhebat sepanjang masa. Bahkan sampai terbitan bumi yang kedua. Aku percaya itu.

Bapak. Aku tahu sudah banyak luka dan duka yang kau dan mama lewati. Setiap harinya, setiap bulan, pun tahun-tahun lebaran. Selalu saja ada luka dan duka yang menyela di antara tawa dan suka cita kita, Pak. Aku tak pernah mengingkari jika aku terkadang merasa benci denganmu, Pak. Merasa marah dan kesal dengan perlakuanmu. Tapi itu ku percaya hanya berlangsung selama 2 sampai 3 hari. Ya, walaupun aku ingat jelas kau pernah mendiamiku selama hampir 2 bulan karena kesalahan yang sampai hari ini aku pun tak tahu itu apa. Aku ingat, Pak. Aku pun masih ingat ketika aku hampir jatuh ke sebuah sungai dan kau tak mau memegangi karena masih marah denganku. Aku ingat jelas itu sampai hari ini, Bapak.
Oh ya, aku juga ingat jika kau baru memulai berbicara denganku ketika nenek meninggal. Itu pun setelah 3 hari aku berusaha mengajakmu berbicara kembali. Ah, Bapak..

Tapi dari itu semua aku selalu menyayangimu., Bapak. Kau serupa mama. Yang mengusahakan segalanya ketika ada yang ku perlukan dan kau sedang tak punya.
Maka dari itu, ku ucapkan ribuan bahkan bermiliar miliar ucapan terima kasih sudah menjadi sesosok bapak yang menggembirakan dan menyenangkan.
Panjang umurlah, Bapak. Agar aku memperoleh kesempatan untuk membahagiakan Bapak dan Mama. Tetaplah hangat dan saling mencintai bersama Mama yang juga sudah tak muda lagi. Semoga bapak semakin hari semakin mengurangi intensitas pertemuan bapak dengan rokok, ya.

Aku menyayangimu, Bapak. Berbahagialah!





0 komentar:

Posting Komentar

Follow by Email

Pengikut

Entri Populer

Google+ Followers

Total Tayangan Halaman

Mengenai Saya

Foto saya

Penerima kado-kado kecil Tuhan. Penggembira umat. Pemimpi selebihnya!