Merindukan Pulang.

Tepat pukul 22.30 tulisan ini akhirnya berhasil dipublikasikan dan telah kamu baca.
Kamu harus tahu, malam ini begitu syahdu. Aku begitu merindukan rumah. Rindu pulang.

Ada banyak hal yang ku rindukan dari kota kecil itu. Ya, sepertinya harus ku akui bahwa kota yang dulu masih kecil itu kini sudah tumbuh besar. Bisa terlihat saat berkunjung kesana. Kau akan menemukan hotel mewah di depan sebuah SDN. Ah, apapun itu. Dampak buruk dari pemerintahan yang goyah mungkin sudah merubah kota itu sedikit demi sedikit. Aku berani taruhan. Sinar matahari pagi kotaku sangat bersahaja, bersahabat. Itu yang tidak pernah bisa ku temukan di kota besar seperti tempat ku kuliah saat ini. Tidak bisa. Hawanya beda. Sinarnya tidak serupa. Aku merindukan Sengkang..

Jika kau berkunjung ke kota itu, kau boleh tanyakan dimana rumahku. Harus ku beri tahu. Rumahku terletak di sebuah kompleks BTN. Disana ada 6 lorong. Dan rumahku tepat pada lorong kedua. Orang-orang mungkin tidak terlalu mengenalku. Saat di Sengkang, aku adalah anak rumahan dimana aku akan keluar pada saat senja dan pulang saat bulan tepat di atas kepala. Lucu bukan? Tapi memang begitulah adanya.

Ketika kau mencariku dan tak menemukanku di rumah, kau boleh ke tempat makan yang menyediakan fasilitas futsal juga. Aku mungkin akan ada disana. Memesan bakso yang dicampur intermie tapi terasa lezat dan memakannya; sendirian. Oh ya, aku lupa. Saat di Sengkang, aku jarang menemui teman-temanku. Bahkan tak seperti orang normal kebanyakan yang saat pulang kampung akan mencari teman-temannya, duduk dan meminum jus di padduppa. Ku peringatkan. Jangan cari aku disana. Kau tak akan menemukan aku, pun motorku.

Apabila sore sudah tertutup dan malam mulai membuka lembarannya lagi, kau bisa menemukanku di sekitar lapangan terbesar di kota kecilku itu. Kau akan menemukanku tengah memakan bakpao keju pesananku dan berbincang tentang betapa getir dan lucunya hidup bersama dengan mas gondrong. Kau mau tahu siapa dia? Dia adalah remaja yang tua 2 tahun dariku. Merantau kesini. Dia dari Jawa. Dia pecinta netral. Sampai tak menjual 2 minggu hanya karena dia berangkat ke Makassar untuk menonton konser band kesayangannya. Mas gondrong pergi dan membuatku berpuasa makan bakpao keju buatannya selama 2 minggu menyedihkan itu. Semoga kau paham rasanya.

Namun, jika senja dan malam belum mengiyakan kita untuk jumpa, kau nampaknya harus bersabar menunggu sampai subuh mendengung dan pemilik denyut nadi memanggil. Kau bisa menemuiku di mesjid kompleks dekat rumah. Tapi lagi lagi, bersabarlah. Karena aku bersama dengan mamaku. Dan kau nampaknya harus berjiwa gagah berani saat berjumpa dengan mama.

Selamat mencoba.

(Tulisan ini entah untuk siapa. Jika kau yang ku harap akhirnya membacanya, kau sudah tentu tahu bukan, ini sebuah kode untukmu? Bergegaslah ke kota kecilku. Dan nikmati pesonanya! Bersamaku tentunya. Bila kau mau)

0 komentar:

Posting Komentar

Follow by Email

Pengikut

Entri Populer

Google+ Followers

Total Tayangan Halaman

Mengenai Saya

Foto saya

Penerima kado-kado kecil Tuhan. Penggembira umat. Pemimpi selebihnya!