Selama Penghabisan Februari.

Selamat pagi, hati.

Sebentar lagi Februari akan berakhir. Lusa; tepatnya. Lalu akan berganti menjadi Maret yang paling mendebarkan pun ditunggu kedatangannya.
Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak sajakah?
Kau tahu, terkadang aku ingin menjadi kau saja. Lelah rasanya berjiwa selayaknya manusia. Mengikuti pakem-pakem yang disodorkan. Mencoba berpura-pura bahagia untuk semua keputusan yang diambil.
Tapi, hati. Ku rasa kau saat ini sudah tak utuh lagi. Beberapa dari kau mungkin sudah tertambal dengan alasan sederhana; karena kau sakit. Itu saja.

Oh baiklah.

Februari dan Januari yang berkawan baik. Saling menggenggam tangan menurunkan hujan di bulan yang berbeda. Aku menyukuri itu. Pun keluh dalam hati tak dapat ku tampik begitu saja.

Ada banyak cerita yang bulan ini hadirkan. Dengan perih dan bahagianya yang sama rata.
Sebaiknya aku perlu  berterima kasih dulu pada Tuhan karena telah rela memberiku napas panjang sehingga bisa menikmati kenangan kenangan januari dan sahabatnya, februari. Aku mengagumi penciptaan dua bulan itu. Karena masing-masing bulan sukses menorehkan kisah panjang, juga mengajarkanku ketabahan luar biasa  yang bulan-bulan lain tak bisa berikan.

Januari. Adalah bulan pertama dari tahun yang berbeda. Aku masih ingat ketika berkumpul dengan kedua orang tuaku di Sengkang. Kota kecil dengan satu juta kenangan lalu lalang setiap kembali kesana.
Februari. Adalah bulan ketika tulisan ini jadi. Entah mengapa, ku rasa Februari lebih lama. Lebih panjang dari tahun sebelumnya. Meskipun berbanding terbalik ketika ku tatap kalender depan komputer kakakku. Disana jelas tertera, Februari hanya memiliki 28 tanggal.
Ketika semua orang mempunyai impian beraneka ragam, aku memiliki satu impian aneh.
Terkadang aku ingin menjadi penulis kalender. Membuat tanggal tanggal panjang sesuka hatiku. Menuliskan tanggal merahnya semauku. Jika seperti itu, tentu Maret adalah bulan yang paling ku panjangkan tanggalnya. Lalu Februari akan ku kurangi menjadi 20 tanggal. Andai saja.

Oh ya, Februari.
Berbicara tentang bulan ini lagi, ku rasa aku harus membuka lagi daftar luka yang sudah ku lupa. Sebab di bulan itu, aku hanya menemukan segelintir bahagia yang membuatku serasa malas menuliskannya. Aku lebih suka menuliskan kisah pahit; luka misalnya.
Karena ini tidak penting dibahas, maka akan ku bahas baik-baik.
Februari menjadi bulan pesakitan untuk orang sepertiku. Semua bermula karena cinta yang tak kunjung usai.
Karena judul tulisan ini adalah penghabisan Februari, sudah selayaknya cerita Februari lebih panjang.

Aku tak pernah membenci Februari karena telah menghadirkan kisah paling perih pada awal tahun ini. Justru aku mengaminkan semua do'a do'a terbaik yang di rapal sahabatku yang sedikit demi sedikit membantuku merawat luka pada hati yang mulai membusuk.

Februari. Kau juga sebaiknya ku berikan ucapan terima kasih. Karena dengan kesakitan luar biasa yang kau hadirkan, aku mampu belajar banyak. Tentang kebijaksanaan. Tentang cinta yang mulai ku sadari sudah tak selayaknya dipertahankan.

Baiklah.
Ku rasa Februari dan Januari sudah lepas ku ceritakan.
Aku menjadi tak sabar menunggu Maret. Lekaslah datang.
Aku lelah menyikapi bulan ini; sendirian.

0 komentar:

Posting Komentar

Follow by Email

Pengikut

Entri Populer

Google+ Followers

Total Tayangan Halaman

Mengenai Saya

Foto saya

Penerima kado-kado kecil Tuhan. Penggembira umat. Pemimpi selebihnya!