SELAMA BULAN SEPARUH


Di luar sana hujan tengah bersenandung merdu, kekasihku.
Semakin meyakinkan jika partiturnya adalah kau.
Sebab sedari tadi, ia telah meneriakkan namamu berulang kali.
Mungkin, agar sudi ku jenguk kenangan itu kembali.
Jikalau saja penawar luka itu nyata
Bukan hanya selembar dongeng yang lambat laun dimakan usia.
Kita tentu saja tak akan berada disini
Memegang secangkir kopi dengan adukan lamunan masing-masing.
Malam semakin kelam dengan binar bintang yang beranjak redup.
Tidakkah sudi kau pungut ceceran rindu yang ku tampung selama menatapmu?
Atau mungkin kau masih ragu?
Lantas, haruskah ku perlihatkan padamu belahan bulan yang lain?
Dimana telah ku pahat sajak kau dan cinta disana.
Jarum jam bahkan telah bosan menatap kita lamat-lamat
Mari pulang, sayangku.
Disini terlalu dingin.
Terlalu lembab.
Terlalu banyak udara dan suara.
Aku mau tidur saja.

Dalam sebuah pusara dengan epitaf tanganmu sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar

Follow by Email

Pengikut

Entri Populer

Google+ Followers

Total Tayangan Halaman

Mengenai Saya

Foto saya

Penerima kado-kado kecil Tuhan. Penggembira umat. Pemimpi selebihnya!