Januari dan Kekasihku yang Pergi.

Baiklah. Mungkin harus ku ceritakan darimana kisah ini bermula. 
Hari itu, tepat ketika bulan di atas kepala. Warnanya kuning sempurna. Serupa matamu dengan sedikit tambahan kehitaman di sudutnya. Jadi disinilah aku saat ini. Duduk sendiri menatap kosong kerumunan orang di bawah sana. Ini malam minggu pertamaku tanpa dia. Lelaki paling tangguh yang sukses membuat hatiku luluh lantah 5 tahun silam. Dia sosok yang sangat bisa ku andalkan. Selalu datang dengan membawa hadiah hadiah kecil yang manis sekali. 
Sudah seminggu rupanya aku disini. Di tempat yang bahkan tak pernah ku tahu namanya apa. Tetapi yang ku rasakan, tempat ini nyaman walaupun sedikit dingin. Sepertinya kita harus memakai pakaian yang tebal disini. Bersih dan sangat layak ditempati untuk membangun sebuah rumah. Ah, ingin sekali rasanya ku bawa kekasihku kesini, membangun rumah yang tak kalah tingginya dengan rumah orang-orang kaya di bawah sana.
Aku juga masih ingat ketika kekasihku memutuskan pergi. Kalian harus tahu. 
Malam itu, januari sedang berbaik hati karena tak menangis lagi. Tetapi berbanding terbalik dengan situasi di rumahku saat itu. Orang-orang yang tak ku kenal datang dan langsung menjatuhkan tubuhnya memeluk ibuku. Mengusap ujung mata mereka yang berair dan kemudian berlalu entah kemana. 
Tiba-tiba pintu terbuka. Kekasihku telah tiba. Dia berlari, melewatiku dan terus masuk menerobos kerumunan orang berbaju hitam tersebut. Ingin sekali ku teriak memanggilnya dan menyadarkannya bahwa aku disini. Tetapi seperti biasa, lidahku kembali keluh dan kaku. Maka dengan sedikit terpatah-patah, ku ikuti saja dia dari belakang. Oh tidak. Dia menuju kamarku. Mau apa dia disana? Padahal jelas sekali saat ini aku sedang berdiri di belakangnya. 
Kemudian ku biarkan dia membuka pintu kamarku. Ada sosok perempuan yang terbaring di atas ranjang. Berpakaian putih dan bersih, serta berbau harum. Kekasihku mendekati perempuan itu. Ia menangis dan meraung sejadi-jadinya. Aku melihat kejadian itu serupa adegan ulang. Kekasihku lalu mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi tak pernah berhenti berkilauan di saku celananya. Dan lihatlah. Dia mengeluarkan sekotak pelangi. Begitu dibuka, isinya hanyalah garis-garis abstrak dengan warnanya masing-masing. Indah sekali. Aku jadi cemburu. Kekasihku tak pernah memberikan kado seperti itu padaku. 
Dia lalu menyimpan kado itu tepat di samping si perempuan. Lalu mengecup dan meninggalkan sepotong bibirnya di kening perempuan itu. Aku terkesima dengan adegan yang baru saja ku saksikan. "Selamat ulang tahun, Lee." Dia menyebut namaku. Dan aku belum mengerti apa-apa. 
Kekasihku lalu pergi dan kembali menghilang di kerumunan orang. Aku menatap curiga pada perempuan itu. Perlahan ku buka kain yang menutupi wajahnya. Ku perhatikan dengan saksama. Baiklah. Maka harus ku akui, perempuan itu adalah aku. Tiba-tiba angin kencang datang. Dan semua menghilang.
Maka disinilah aku saat ini. Di atas langit. Bermain dengan bentuk awan. Menyeduh teh untuk Tuhan.
                                                                                                                                                          NN

0 komentar:

Posting Komentar

Follow by Email

Pengikut

Entri Populer

Google+ Followers

Total Tayangan Halaman

Mengenai Saya

Foto saya

Penerima kado-kado kecil Tuhan. Penggembira umat. Pemimpi selebihnya!