November (tidak) Ceria

Selamat bulan November!

Ada banyak kisah ajaib yang sempat ku pungut dari November pertama ini. Kedatangan tanggal-tanggal pertama, akan selalu berat untuk orang-orang yang sedang bersiap melepaskan. Fiuh!
Kisahnya dimulai saat seorang lelaki dengan tidak bertanggung jawab telah membiarkan si perempuan hilang dalam matanya yang teduh. Hanya sekedar melemparkan tatapan hangat, lelaki itu mampu membuat dunia di dalam matanya, dunia yang hanya akan di tempati oleh seorang perempuan yang selalu suka akan sinarnya. Bak mantra, sinar itu selalu menjadi pusara terhebat yang sukses membuat si perempuan menghilang di dalamnya. Oh mungkin bukan menghilang, tetapi lebih tepat adalah menikmati. Ya, sebab jarang sekali ada lelaki dengan tatapan teduh seperti itu. Dan, ya! Perempuan itu adalah aku. Lelakinya, tentu saja kamu.
Mengelilingi teduhnya matamu adalah kegiatan yang menggembirakan bagiku. Mahasiswa baru, yang baru membuka mata tentang dunia kampus. Dari perkenalan singkat, kejadian-kejadian aneh, dan kado-kado kecil ternyata mampu menjadikanku salah satu penghuni dunia matamu. Aku mulai rajin berkunjung ke dalam matamu setiap pagi, setiap kamu duduk di koridor, bahkan setiap kamu membaca buku. Terkadang, aku mulai merasa jemu terkungkung dalam dunia matamu. Maka ku beranikan diri untuk mencoba masuk ke dalam dunia nyatamu. Kamu.
Pembicaraan-pembicaraan kecil itu mengantarkanku dalam sebuah pusaran yang baru. Kata orang, itu cinta. Jatuh cinta? Sudah berapa lama aku tidak merasakan itu? Dan apakah jika aku suka masuk ke dalam dunia matamu maka aku adalah terdakwa yang sedang jatuh cinta? Ah, ku pikir tidak. Kamu orang yang baik. Tetap ku yakini itu sampai cerita ini dituliskan. Bahkan ketika binar dimatamu telah berusaha ku tolak. 
September lalu. Aku banyak belajar dari kisah-kisah sebelum ini. Aku benci terkungkung dalam matamu. Sebab kau mungkin tak akan pernah tau, kalau untuk keluar dari tempat itu, aku bahkan harus melompati ribuan cahaya untuk sampai ke duniaku. Tak ku pungkiri, keteduhan matamu telah mampu membuat aku melupakan ribuan cahaya mata di luar sana. Hanya matamu.
Aku selalu mencuri waktu hanya untuk bisa menatapmu. Melompat girang ke koridor saat ku dapati kepalamu tertunduk membaca buku di ujung tembok. Awalnya, kisah ini manis. Semanis senyummu yang datar. Tapi ah. Ada sahabat yang menyelamatkanku dari duniamu. Dia yang menepuk pundakku ketika aku hampir ikut berdansa dalam pusaramu. Lalu aku teringat lagi.
Ternyata sudah hampir sebulan, semuanya seperti ini. Aku terlalu lelah menunggumu datang. Ya, sudah ku coba untuk duduk sejenak. Menunggumu yang jauh di belakang. Berjalan terpatah-patah. Sementara aku telah berlari jauh di depan untuk menarik satu kata saja, Cinta. Dan kamu hanya berjalan sekedarnya. Maka ku putuskan menunggu.
Seminggu, dua minggu. Kamu tidak kunjung tiba. Jarak kita masih terlampau jauh. Ku putuskan untuk menyerah. Mengangkat bendera putih. Menerima kenyataan, kalau kisah ini tidak akan pernah selesai. Selama ini ternyata aku telah menunggu kedatangan orang yang bahkan tidak pernah berharap untuk ku tunggu. Bak komedi putar. Hanya aku sendiri di tempat ini, berputar-putar tak karuan, tetap di tempat yang sama. Seperti itu hubungan kita. Ternyata.
Maka pada akhirnya, ku putuskan untuk berdiri. Menyerah. Sederhananya, aku berhenti menatapmu. Tapi, untuk semuanya terima kasih. Paling tidak, aku sempat menemukan cahaya itu di matamu. Cahaya yang bahkan tidak ku temukan pada mataku. Dan sekarang aku tak bisa lagi menatap matamu. Sebab mataku sendiri telah ku beri kunci agar tak seenaknya lagi berkunjung ke mata orang lain. Termasuk matamu.



                             NN

2 komentar:

Posting Komentar

Follow by Email

Pengikut

Entri Populer

Google+ Followers

Total Tayangan Halaman

Mengenai Saya

Foto saya

Penerima kado-kado kecil Tuhan. Penggembira umat. Pemimpi selebihnya!