Teruntuk Seorang Lelaki yang Ku Tahu Sedang Mengemasi Barangnya.

Ketika seseorang tiba-tiba datang, maka ketahuilah. Itu adalah saat dimana dia juga akan tiba-tiba pergi. Melewati pintu-pintu yang bahkan tidak pernah kita duga sebelumnya. Atau mungkin sedari awal kita lah yang menciptakan pintu itu. Membiarkannya terbuka begitu saja tanpa berusaha kita tutup. Suatu jalan utama yang bisa dia lewati kapan saja dia mau. Dan dia memilih waktunya, sekarang.


Seharusnya kita tidak boleh merasakan kehilangan. Sebab sedari awal, sudah sepantasnya seseorang hadir lalu kemudian pergi. Hanya saja, kita tidak dapat mengetahui kapan waktu itu datang. 
Benar-benar tak ada daya dan upaya untuk menghentikan kepergian lelaki itu. Aku bahkan melihatnya mengemasi barang dalam rumah yang kita buat bersama. Oh, tidak. Dia mengemasi barang yang kita simpan rapi selama ini. Kenangan.

Aku tak pernah sadar jika ia mampu membungkus kenangan lalu membawanya keluar dari rumah. Setelah memutuskan pergi tanpa memberi isyarat terlebih dahulu. Menghilang tiba-tiba serupa udara dalam genggaman. Berusaha ku cegah, namun tetap saja yang ku temukan adalah hampa. Dia adalah udara itu. Seorang lelaki yang tak pernah ku perjuangkan sama sekali. Seorang lelaki yang menaburkan janji lalu memungutnya kembali. 

Sekali lagi. Aku menatap orang-orang keluar dari rumah yang ku bangun bersama mereka. Ini adalah orang yang kesekian kalinya berhasil pergi dan ku biarkan begitu saja. Entahlah. Ku rasa aku tak pernah menciptakan pintu selebar itu untuk orang-orang pergi. Tetapi menurutnya, aku lah yang membuat. Lalu menunggu depan pintu. Duduk dan melihatnya melepaskan kenangan itu satu-satu. Melipat, membungkus, lalu memasukkannya ke dalam sebuah wadah yang tak dapat dijangkau siapapun. Pikirannya, mungkin. Aku tak pernah tahu itu. Akan tetapi, aku sudah menghapal rasanya. Pedih. Sekali lagi menghujam berulang kali.

Langkah terbaik yang ku lakukan, hanyalah menatapnya pergi. Melambaikan tangan. Berdoa semoga dia baik-baik saja dan menemukan apa yang dia cari di dunia luar sana. Terkadang ada waktu kita harus membiarkan orang-orang itu keluar lalu pergi tanpa harus dicegah. Sebab, sesungguhnya itulah jalan terburuk namun terbaik yang bisa dia lakukan. Daripada harus tinggal dan menungguku yang menunggunya di ujung pintu yang terbuka. Sama sekali tak ada harapan dan masa depan jika seperti itu rupanya. 

Namun yang ku sesalkan, aku tak pernah tahu waktu ini akan datang. Sama saja, aku hanya membutuhkan cahaya matahari jika aku merasakan kedinginan. Mungkin dia merasa seperti itu. Dia hanya menjelma menjadi penawar luka. Bukan seseorang yang mengobati luka secara langsung.

Pergilah.
Pijakkan langkahmu dengan baik.
Salamku pada rumahmu yang baru (jika saat ini kau sudah menemukannya)


2 komentar:

Posting Komentar

Follow by Email

Pengikut

Entri Populer

Google+ Followers

Total Tayangan Halaman

Mengenai Saya

Foto saya

Penerima kado-kado kecil Tuhan. Penggembira umat. Pemimpi selebihnya!